kameraaaaaaa.
papa mama gak mau bantuin dana sih, tapi mau pun mereka aku gak bakal bersedia. hehehe.
its about pride sobbb.
hehehe.
aku lagi mikir banget ni, gimana caranya ngedapetin tuh kamera.
by the way, bisnis yang aku rencanain itu, both of it, belum jalan, ada banyak kendala soalnya.
oh ya, udah lihat kan kamera keren itu, yaah itu yang lagi aku pengen banget. canon eos 450d,
apapun caranya, harus dapet. hehehe.
12 Oktober 2010
finally, i found someone.
orang yang bisa ngebuat aku ingin menjadi orang yang lebih baik, orang yang bisa membuat aku mengerti arti phrase yang udah lama aku pertanyakan, "apa mencintai seseorang bisa menjadi inti eksistensi?"
orang yang bisa membuat aku mengerti gimana rasanya mencintai seseorang seperti bella mencintai edward di twilight.
kalimat itu, "i was unconditionally, irrevocably, in love with him"
orang yang bisa ngebuat aku ingin menjadi orang yang lebih baik, orang yang bisa membuat aku mengerti arti phrase yang udah lama aku pertanyakan, "apa mencintai seseorang bisa menjadi inti eksistensi?"
orang yang bisa membuat aku mengerti gimana rasanya mencintai seseorang seperti bella mencintai edward di twilight.
kalimat itu, "i was unconditionally, irrevocably, in love with him"
11 Oktober 2010
luka
a lot things are happened.
aku udah berubah banyak hehehe.
aku juga udah lebih bisa berdamai dengan diriku sendiri.
dan luka itu perlahan sembuh.
ternyata inti dari semuanya itu memang penerimaan.
seberapa jauh kita bisa menerima sebentuk luka yang akan menempa kita menjadi orang yang lebih kuat dan lebih baik.
juga untuk merasakan kebahagiaan yang bahkan bisa langsung menghapus jejak luka hingga ke memorinya, sampai kau akan heran, apakah sebelumnya kau benar-benar terluka.
yaah seperti katanya paramore:
"pain is just a simple compromise, so that we can get what we want out of it"
jadi kembali lagi aku pada keyakinan, tidak ada salahnya untuk terluka.
juga tak ada gunanya terus menjadi pengecut yang takut terluka, yang terus menerus menjadi seseorang tanpa rasa.
bukankah hidup memang seharusnya banyak rasa?
aku udah berubah banyak hehehe.
aku juga udah lebih bisa berdamai dengan diriku sendiri.
dan luka itu perlahan sembuh.
ternyata inti dari semuanya itu memang penerimaan.
seberapa jauh kita bisa menerima sebentuk luka yang akan menempa kita menjadi orang yang lebih kuat dan lebih baik.
juga untuk merasakan kebahagiaan yang bahkan bisa langsung menghapus jejak luka hingga ke memorinya, sampai kau akan heran, apakah sebelumnya kau benar-benar terluka.
yaah seperti katanya paramore:
"pain is just a simple compromise, so that we can get what we want out of it"
jadi kembali lagi aku pada keyakinan, tidak ada salahnya untuk terluka.
juga tak ada gunanya terus menjadi pengecut yang takut terluka, yang terus menerus menjadi seseorang tanpa rasa.
bukankah hidup memang seharusnya banyak rasa?
Langganan:
Postingan (Atom)
